Tragedi Kapal Sewol: 7 Tahun Berlalu, Sebuah Pengingat Untuk Tidak Lalai

Posted on
Tragedi tenggelamnya kapal Sewol
Tragedi tenggelamnya kapal Sewol

TINTAPENA.COM – Karammnya Kapal Sewol ketika berlayar menuju kota Jeju pada 16 April 2014 tak hanya meninggalkan kesedihan, tetapi juga kekecewaan di hati masyarakat Korea Selatan. Penyebabnya adalah proses evakuasi penumpang yang buruk dan orang-orang yang lalai terhadap tanggung jawab profesinya.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, profesi memiliki sebuah makna yaitu bidang pekerjaan yang dilandasi pendidikan keahlian (keterampilan, kejuruan, dan sebagainya) tertentu. Profesi memunculkan sebuah otoritas. Berdasarkan pengalaman Milgram, otoritas itu membuat orang yang memiliki pendidikan keahlian atau profesi lebih dipatuhi oleh orang lain.

Evakuasi buruk dan kapten yang menelantarkan Kapal Sewol
Sayangnya, kepatuhan tersebut justru membuat Tragedi Kapal Sewol menjadi begitu buruk. Saat kapal Sewol semakin miring, para penumpang tidak segera dievakuasi. Awak kapal justru memerintahkan semua penumpang untuk tetap diam di tempat. Akibatnya, hanya 172 orang yang berhasil selamat, sementara 304 orang lainnya tewas mengenaskan.
“Jangan bergerak dari posisi Anda sekarang,” bunyi himbauan pengumuman kepada penumpang yang terekam di video yang diambil salah satu penumpang kapal tersebut.
Video itu berjudul “What happened inside Sewol ferry 2014.04.16” dan dapat disaksikan di YouTube.

Pengumuman himbauan itu terdengar berkali-kali. Di pengumuman lain, terdengar bahwa beberapa kapal penyelamat segera datang di saat kemiringan kapal yang semakin parah. Penumpang yang merekam video tersebut bertanya-tanya apakah bantuan itu dapat menyelamatkan 300 orang lebih yang ada di kapal ini.
Cerita buruk dari proses evakuasi itu juga dibagikan oleh seorang penyintas yang bernama Jang Ae Jin. Pada sebuah wawancara di Channel YouTube Korea Now, Jang Ae Jin bercerita tentang bagaimana ia keluar dari kapal Sewol tersebut.
“Kami sedang berada di sebuah ruangan yang luas. Di sana ada banyak lemari untuk menyekat ruangannya. Namun, kami mendengar suara seseorang berteriak dari kejauhan. Tiba-tiba lemari berjatuhan. Jika bukan karena itu, mungkin kami tidak akan pernah berhasil keluar,” ungkapnya.
Ia dan sebagian temannya lalu berjalan menyusuri lorong kapal. Karena keadaan kapal yang begitu miring, ia harus berjalan di dinding kapal. Setibanya di luar, Jang Ae Jin mengaku tak ada seorang pun di sana untuk menyelamatkannya. Saat itu, jaraknya dengan permukaan laut hanya satu langkah.

“Kami begitu ketakutan, jadi kami hanya diam saja. Kemudian, air laut secara tiba-tiba menyerbu kapal. Saya berpegangan pada sesuatu yang ada di dekat saya dan bertahan. Namun, sepertinya banyak teman yang terbawa arus air laut. Saat itu, saya sadar bahwa saya harus melakukan sesuatu dan segera pergi dari sana. Orang-orang di luar kemudian menarik tangan saya. Begitulah kronologi saya lolos dari kapal itu,” ungkapnya.

Tak hanya itu, kekecewaan kian terasa kala nakhoda yang bertanggung jawab atas kapal Sewol itu, Kapten Lee Jun Seok, justru diselamatkan terlebih dahulu. Kapten tersebut terekam lolos dari kapal sekitar pukul 09.47 waktu setempat. Walaupun keluar dengan selamat, Kapten tersebut akhirnya dipenjara seumur hidup karena telah menelantarkan kapal. Sementara itu, awak kapal lainnya yang bertanggung jawab atas kapal tersebut mendapatkan hukuman penjara yang lebih ringan.

Reporter melanggar aturan liputan
Selain awak kapal, para reporter juga menuai kekecewaan masyarakat. Masih dari cerita Jang Ae Jin, ia menyaksikan berita bahwa penumpang lain di kapal tersebut telah diselamatkan. Namun, beberapa waktu kemudian, Jang Ae Jin menemukan bahwa kabar yang diberitakan sebelumnya tidak benar.

Sebelum itu, Jang Ae Jin juga merasa sikap reporter sedikit kasar karena langsung mengarahkan kamera kepadanya yang baru saja sampai di daratan. Hal tersebut masih terjadi bahkan saat Jang Ae Jin dan para penyintas lain berkumpul di Gimnasium Jindo.

“Semua temanku trauma dan menangis, tetapi para reporter tetap saja merekam mereka. Mereka juga hendak mencoba untuk mewawancarai. Teman-temanku mencoba untuk tetap tenang pada kekacauan ini. Saya sangat geram melihat reporter itu.”
Surat kabar Dong-A Ilbo (dilansir dari Wall Street Journal) mengatakan dalam laporannya bahwa banyak wartawan yang melanggar aturan liputan bencana yang dibuat oleh Asosiasi Jurnalis Korea Selatan saat meliput tenggelamnya Kapal Sewol. Jika dianalisis, pelanggaran itu antara lain liputan yang salah, provokatif, tidak dilakukan pengecekan ulang terhadap bahan berita yang di liput, serta pengambilan gambar tanpa izin.

“Reaksi awal terhadap tenggelamnhya kapal Sewol inilah yang menjadi masalah,” ungkap Jang.
Ia menilai, jika saja pengumuman dimuat lebih cepat, harapan para penumpang yang selamat akan jauh lebih besar.
“Kita seharusnya tidak pernah melupakan tragedi kejadian ini. Jika kita melupakannya, situasi seperti ini bisa saja terjadi kembali,” pesannya kedapa kita semua.
Pengalaman merupakan guru yang berharga. Manusia dapat menjadi lebih baik dengan belajar dari masa lalu yang telah terjadi. Melalui peringatan tragedi Kapal Sewol, harapan-harapan terpanjat agar kejadian nahas maupun kelalaian serupa tidak terjadi kembali.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *