Sindikat Pemalsu Surat Bebas Covid-19 600 Lembar Diciduk

Posted on
Sindikat Pemalsu Surat Bebas Covid-19 600 Lembar Diciduk
Sindikat kasus pembuat surat negatif Covid-19 palsu.(Istockphoto/D-Keine)

TINTAPENA.COM–Surabaya, Kasus sindikat pemalsu surat keterangan bebas Covid-19, yang beraksi di Sidoarjo berhasil diringkus Subdit III Jatanras Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Jatim. Mereka pernah mengeluarkan sejumlah surat bebas virus corona yaitu sebanyak 600 lembar selama empat bulan.

“Para tersangka kasus ini sudah memproduksi dan berhasil menjual sebanyak 600 lembar surat keterangan bebas Covid-19 palsu dalam kurun waktu empat bulan di Kabupaten Sidoarjo,” kata Kabid Humas Polda Jatim Kombes Pol Gatot Repli Handoko, hari Selasa (11/5).

Mereka yang ditangkap yaitu NH (33tahun) warga Kelurahan Banjarejo, Pagelaran, Malang; SG (36tahun) warga Pabean, Sedati, Sidoarjo; MZA (22tahun) warga Desa Pagerwojo, Buduran, Sidoarjon; IB (51tahun) warga Sedati, Sidoarjo dan IF (27tahun) warga Jalan Petukangan Ampel, Surabaya.

Kelima tersangka tersebut, kata Gatot, mempunyai peran yang berbeda. NH sebagai pembuat surat keterangan dokter hasil rapid test swab antigen dan swab PCR palsu. AF berperan sebagai pencetak surat palsu.

“Sedangkan dari tiga tersangka lain yakni IB, SG dan MZA berperan untuk membantu memasarkan dan mencari pemesan surat keterangan hasil rapid test swab antigen dan swab PCR palsu,” ungkap Gatot.

Pada kesempatan yang sama, Direskrimum Polda Jatim Kombes Pol Totok Suharyanto juga menjelaskan bahwa sindikat yang memasarkan surat keterangan hasil Covid-19 palsu atas nama RS Sheila Medika kepada sejumlah calon pemesan.

RS Sheila Medika sendiri beralamat di Jalan Letjen Wahono, bypass Juanda Baru, Sedati Gede, Sedati, Sidoarjo. Nama RS Sheila Medika dicatut oleh tersangka NH mantan karyawan office boy yang pernah berkerja disana dan telah dipecat 4 bulan lalu.

“Pelaku yang berperan sebagai marketing [SG, MZA dan IB] membeli dari pembuat [NH] seharga Rp100 ribu untuk satu lembar surat keterangan hasil swab antigen dan seharga Rp400 ribu untuk selembar surat keterangan hasil swab PCR,” kata Totok.

Kemudian, surat palsu yang dijual oleh marketing kepada pemesannya dibandrol dengan harga Rp200 ribu untuk hasil swab antigen dan seharga Rp650 ribu untuk hasil swab PCR.

Kebanyakan para pemesan adalah para penumpang pesawat terbang dan penumpang travel yang menginginkan hasil swabnya negatif tanpa melewati pemeriksaan standar.

Pengungkapan kasus tersebut dilakukan ketika anggota kepolisian berpura-pura menjadi pemesan. Anggota polisi yang memesan surat dengan harga Rp200 ribu kepada tersangka SG.

Setelah surat keterangan hasil swab palsu tersebut diterima anggota yang menyamar, tanpa membutuhkan waktu lama selanjutnya pelaku langsung diamankan beserta dengan barang bukti.

Setelah dilakukan interogasi, pelaku akhirnya mengaku kalau memesan surat tersebut dari tersangka NH. Beberapa saat kemudian, tersangka NH datang untuk mengantarkan pesanan lainnya dari tersangka SG.

“Setelah dilakukan interogasi kepada tersangka NH, ia mengaku membuat sendiri dokumen palsu tersebut dengan laptop dan printer dengan mengatasnamakan RS Shelila Medika Sidoarjo, dimana blanko/formnya sudah ada dimiliki dan disimpan dilaptop pelaku,” ujarnya.

Kemudian hasil dari keterangan dua tersangka lainnya, Timsus Subdit III mengamankan kembali sebanyak 3 orang pelaku lainnya. Dua di antaranya yang berperan sebagai marketing dan 1 orang lainnya berperan sebagai pembuat dan pencetak surat tersebut.

“Berdasarkan dari hasil interogasi, per hari rata-rata dapat mencetak sebanyak 3 surat keterangan hasil swab PCR palsu, dan 5 surat keterangan hasil rapid test antigen palsu,” katanya.

Dari pengungkapan kasus ini, sejumlah barang bukti yang berhasil diamankan yakni uang tunai sebesar Rp600 ribu dari tersangka NH, dan uang tunai sebesar Rp 600 ribu dari tersangka SG.

Kemudian ada 4 lembar hasil rapid test swab antigen palsu yang sudah jadi beserta amplop, 1 bendel blangko kosong rapid test swab antigen kop surat RS Sheila Medika beserta amplopnya, 1 bundel surat rapid test swab antigen kop surat RS Sheila Medika yang salah print.

Akibat dari ulahnya, kelima tersangka akan diancam Pasal 263 ayat (1) KUHP Subsider Pasal 268 KUHP Jo. Pasal 55 KUHP dengan ancaman hukuman paling lama 6 tahun penjara.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *