Sejarah Dan Tema Hari Pendidikan Nasional 2 Mei 2021

Posted on
Logo Hari Pendidikan Nasional 2021
Logo Hari Pendidikan Nasional 2021

TINTAPENA.COM — Indonesia akan memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) yang jatuh pada tanggal 2 Mei 2021.

Setiap tanggal 2 Mei Indonesia ditetapkan untuk memperingati Hari Pendidikan Nasional. Penetapan hari tersebut berdasarkan Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 316 Tahun 1959 pada tanggal 16 Desember 1959.

Sejarah pendidikan di Indonesia tidak terlepas dari jasa tokoh pahlawan Ki Hajar Dewantara yang kini dijuluki sebagai Bapak Pendidikan Nasional. Atas jasanya tersebut, melalui surat keputusan presiden tahun 1959 itu, tanggal lahir Ki Hajar Dewantara ditetapkan sebagai Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas).

Pada Hari Pendidikan Nasional tahun ini, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi mengusung tema “Serentak Bergerak, Wujudkan Merdeka Belajar”.
Walau di tahun 2021 ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, tapi esensi atau makna sebuah pendidikan harus tetap sama.

Pendidikan adalah modal bangsa untuk mewujudkan cita-cita luhur bangsa Indonesia. Melalui pendidikan akan melahirkan generasi unggul yang siap meneruskan perjuangan leluhur Indonesia.

Sejarah Hari Pendidikan Nasional

Sejarah Hari Pendidikan Nasional memang tak bisa dilepaskan dari sosok dan jasa perjuangan Ki Hadjar Dewantara, sang pelopor pendidikan bagi kaum pribumi Indonesia dari zaman penjajahan Belanda silam.

Dikutip dari National Geographic, tokoh pahlawan Ki Hadjar Dewantara yang memiliki nama asli R.M. Suwardi Suryaningrat lahir dari keluarga ningrat di Kota Yogyakarta pada 2 Mei 1889 silam.

Setelah menyelesaikan pendidikan dasar di Indonesia, selanjutnya ia mengenyam pendidikan di STOVIA, namun tidak dapat menyelesaikannya karena sakit.

Akhirnya, Ki Hadjar Dewantara bekerja menjadi seorang wartawan di beberapa media surat kabar, seperti De Express, Utusan Hindia, dan Kaum Muda.

Selama era penjajahan Hindia Belanda, ia dikenal karena berani menentang kebijakan pendidikan pemerintah Hindia Belanda pada masa itu.

Saat itu, pemerintah Hindia Belanda hanya memperbolehkan anak-anak keturunan Belanda atau kaum priyayi yang bisa mengenyam bangku pendidikan.

Kritiknya terhadap kebijakan pemerintah kolonial menyebabkan Ki Hadjar Dewantara diasingkan ke Belanda bersama dua rekannya, Ernest Douwes Dekker dan Tjipto Mangoenkoesoemo.

Ketiga tokoh tersebut kemudian dikenal sebagai “Tiga Serangkai”.

Setelah kembali ke tanah air Indonesia, Ki Hadjar Dewantara kemudian mendirikan sebuah lembaga pendidikan National Onderwijs Instituut Tamansiswa atau Perguruan Nasional Tamansiswa.

Ki Hadjar Dewantara memiliki semboyan yang selalu ia terapkan dalam sistem pendidikan untuk bangsa Indonesia.

Secara utuh, semboyan tersebut dalam bahasa Jawa berbunyi “ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani”.

Arti dari semboyan  bahasa jawa tersebut adalah: Ing Ngarsa Sung Tulada (di depan, seorang pendidik harus memberi teladan atau contoh tindakan yang baik), Ing Madya Mangun Karsa (di tengah atau di antara murid, guru harus menciptakan prakarsa dan ide), dan Tut Wuri Handayani (dari belakang seorang guru harus bisa memberikan dorongan dan arahan),

Dikutip dari bulelengkab.go.id, Ki Hajar Dewantara wafat di usianya yang berumur 70 tahun pada Tanggal 26 April 1959.

Berkat jasa dan usaha kerja kerasnya dalam rangka merintis pendidikan di tanah air, Ki Hadjar Dewantara dinobatkan sebagai Bapak Pendidikan Nasional Indonesia atas dasar Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 305 Tahun 1959 pada Tanggal 28 November 1959.

Kemudian, hari kelahiran Ki Hadjar Dewantara ditetapkan sebagai Hari Pendidikan Nasional Indonesia.

Makna Hari Pendidikan Nasional

Dengan adanya kemudahan dalam menempuh jenjang pendidikan saat ini diharapkan bagi generasi muda Indonesia, siswa dan pelajar dapat memanfaatkannya untuk menimba ilmu pengetahuan yang setinggi-tingginya.

Seperti pribahasa dalam kalimat kiasan “Tuntutlah Ilmu dari Buaian hingga ke Liang Lahat” atau “Tuntutlah Ilmu hingga ke Negeri Cina” yang memiliki arti: Menuntut ilmu itu tidak mengenal adanya batasan umur dan usia, serta tempat.

Ilmu pengetahuan merupakan jendela dunia, tingkatkan budaya membaca buku yang bermanfaat, bagi Anda yang memiliki keahlian, Ilmu Pengetahuan dan Teknologi maka Anda akan dapat menguasai dunia dalam genggaman Anda.

Diharapkan pemerintah Indonesia yang berkuasa saat ini memberikan porsi tunjangan APBN yang lebih besar serta pengawasan yang ketat terhadap penyerapan anggaran sektor pendidikan di Indonesia, demi untuk menunjang dan meningkatkan martabat serta kemakmuran bagi segenap warga negara Indonesia.

Selain itu yang perlu dipertimbangkan oleh pemerintah adalah nasib dan kesejahteraan para pengajar atau guru, sehingga mereka bisa lebih optimal dalam memberikan sumbangsih terhadap kemajuan pendidikan Indonesia, serta pembangunan sarana sekolah baru yang memadai hingga ke pelosok tanah air kita.

Disamping peran para pengajar atau guru, peran orang tua juga sangat besar pengaruhnya terhadap dunia pendidikan, dimana orang tua bisa memberikan suri tauladan dan contoh prilaku yang baik tentang norma-norma dan pendidikan dasar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *