Permainan Mafia Karantina di Bandara Soetta Buat Data Palsu, Demi Mendapat Rp 4 Juta

Posted on
Suasana di Terminal 3 bandara Soetta
Suasana di Terminal 3 bandara Soetta

TINTAPENA.COM–Polisi mengungkapkan sejumlah fakta kasus baru terkait kasus mafia karantina kesehatan yang terjadi selama ini di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang.

Tersangka mafia berinisial RW, S, dan GC membantu warga negara Indonesia (WNI) berinisial JD lolos dari karantina sepulang dari negara India.

Diketahui, setiap WNI atau WNA yang datang dari India harus dikarantina selama 14 hari, mengingat adanya mutasi virus Covid-19 varian baru B.1617 yang bermuatan mutasi ganda di negara tersebut.

Fakta terkini di ungkap oleh polisi setelah GC ditangkap belum lama ini di Jakarta.

GC merupakan orang yang berperan memfotokopi dan memalsukan data JD hingga bisa lolos dari karantina.

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Yusri Yunus mengatakan, saat ini total ada empat orang yang dinyatakan sebagai tersangka terkait kasus pemalsuan data tersebut.

“Ada 3 tersangka. Kami tidak lakukan penahanan terhadapa tersangka karena di Undang-Undang Karantina Kesehatan, ancaman satu tahun penjara sehingga tidak ditahan.

Sekarang tambah satu tersangka lagi inisial GC,” ujar Yusri kepada wartawan, Rabu 28 April kemarin.

GC palsukan data

GC merupakan orang yang memiliki peran penting dalam meloloskan JD dari proses karantina sesuai aturan pemerintah.

Yusri mengatakan, GC ini berperan memfotokopi dokumen JD pada tahap pertama pemeriksaan kesehatan di Bandara Soekarno-Hatta. “Kalau JD hasilnya negatif (Covid-19) kemudian menuju hotel yang telah ditentukan sesuai aturan Kemenkes. Tahap kedua selanjutnya diantar ke hotel rujukan. Peran dari tersangka GC data orang untuk masuk rujukan ke hotel, tapi hanya data saja yang masuk,” ungkap Yusri.

GC mendapat uang Rp 4 Juta

Yusri menyampaikan, tersangka GC mendapatkan bagian terbesar dari uang yang dibayar oleh JD sebesar Rp 6,5 juta untuk lolos dari karantina Covid-19.

Adapun status dari GC yang bisa meloloskan penumpang dari India tanpa karantina itu saat ini kasusnya masih didalami oleh penyidik.

“Dia ini yang punya peran penting dan mendapat bagian yang cukup besar dari pengiriman uang Rp 6,5 juta dari JD, Saudara GC dapat Rp 4 juta.

Setelah saudara GC dapat Rp 4 juta, orangnya tersebut (JD) bisa langsung pulang,” ungkap Yusri.

Mafia Bandara pernah loloskan Warga Negara India

Yusri Yunus mengatakan, sebelum JD, para mafia tersebut juga pernah meloloskan WN India masuk ke Indonesia tanpa proses karantina kesehatan.

Komplotan tersebut sudah dua kali meloloskan WN India. “Bukan (pertama kali), ini sudah kedua kalinya. WNA (India) yang sudah tersebar di beberapa daerah,” ujar Yusri.

Yusri Yunus juga mengatakan, penyidik masih mengejar 2 Warga Negara India yang telah diloloskan oleh GC, RW, dan S di Bandara Soekarno-Hatta tanpa karantina kesehatan.

“Ini sepertinya mulai berkembang lagi. Tim penyidik juga sedang melakukan pengejaran terhadap dua lagi Warga Negara India yang sudah lolos juga,” ungkap Yusri.

Tersangka merupakan pensiunan Dinas Pariwisata DKI

Di balik dari kasus mafia karantina di Bandara Soekarno-Hatta tersebut, ada dua orang pelaku yang merupakan pensiunan Dinas Pariwisata DKI Jakarta. Mereka adalah RW dan S. Mereka selama ini memiliki kebebasan untuk keluar masuk Bandara Soekarno-Hatta.

Hal inilah yang dimanfaatkan oleh kedua tersangka dan bekerja sama dengan GC untuk meloloskan JD yang baru saja pulang dari India tanpa melakukan karantina kesehatan.

“Kami sedang dalami semua termasuk adanya kartu pas yang memang tersangka S dan RW yang mengatur mulai dari menjemput, ini memiliki kartu pas. Dia merupakan pensiunan dari Dinas Pariwisata DKI,” kata Yusri.

Yusri Yunus menegaskan, sampai saat ini penyidik masih mendalami kartu akses yang dimiliki oleh saudara RW dan S yang bisa membuat mereka dengan mudah keluar masuk di Bandara Soekarno-Hatta.

“Kami masih dalami kartu tersebut, termasuk anak (S) sendiri si RW sama bisa ada kartu pas keluar masuk bandara kami sedang dalami,” ucap Yusri Yunus.

Saat ini, JD, GC, RW, dan S telah ditetapkan sebagai tersangka atas pemalsuan data yang dijerat dengan Undang-Undang Karantina Kesehatan.

Namun, keempat tersangka tersebut tidak ditahan karena merujuk pada pasal undang-undang tersebut yang hukuman penjaranya di bawah lima tahun. Kini, keempatnya hanya menjalankan wajib lapor terkait kasus mafia karantina kesehatan yang terjadi di Bandara Soekarno-Hatta tersebut.

“Tidak dilakukan penahanan karena dipersangkakan di Undang-Undang Karantina Kesehatan dan wabah penyakit yang ancamannya satu tahun penjara, sehingga tidak dilakukan penahannan,” kata Yusri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *