Penghasilan Tinggi Saat Pandemi

Posted on
Uang digital
Uang digital

Pandemi virus Corona (COVID-19) yang terjadi di seluruh belahan dunia sudah berjalan lebih dari satu tahun. Efek negatif pandemi ini terhadap industri begitu benyak, mulai dari PHK di berbagai sektor hingga investasi individu yang amburadul dan mengalami kebangkrutan.
Bisa di lihat investasi di pasar modal yang sempat berantakan akibat virus ganas tersebut. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menyentuh level paling rendah di 3.937,63 pada 23 Maret 2020.

Selain itu, bunga deposito juga menurun derastis seiring dengan dipangkasnya bunga acuan Bank Indonesia yaitu BI Seven Days Repo Rate yang sekarang mencapai di level 3,5%. Namun ada beberapa fenomena menarik di tengah situasi pandemi yang serba tidak pasti ini. Cryptocurrency alias uang kripto atau disebut juga dengan uang digital jadi mulai dilirik para investor.

Uang digital yang tidak punya bentuk fisik ini bukan sebuah barang baru. Pada tahun 2009 silam, orang tak dikenal yang mengaku bernama Satoshi Nakamoto asal negeri Sakura membuat mata uang virtual atau digital bernama Bitcoin (BTC).

Bitcoin baru bikin gempar di beberapa tahun ke depan setelah peluncurannya di tahun 2009. Makin banyak orang milirik dan menggunakan Bitcoin karena transaksinya tidak terdeteksi. Harga Bitcoin pun makin lama makin naik seiring jumlah pengguna yang semakin banyak dan pasokannya terbatas.

Popularitas Bitcoin baru meroket setelah didorong oleh cuitan-cuitan Elon Musk pemilik saham terbesar Tesla, pendiri perusahaan mobil listrik. Musk yang bisa dibilang keranjingan Bitcoin ini punya koleksi mata uang kripto yang jumlahnya sangat besar.

Pelaku publik figur juga mempengaruhi naik turunnya harga Bitcoin, apalagi jika mereka rajin mempromosikan mata uang digital atau cryptocurrency tersebut. Hal itu dapat mendorong kepercayaan orang kepada mata uang digital tertentu semakin kuat, akhirnya tercipta demand atau keinginan yang tinggi.

Cuitan-cuitan Elon Musk di media sosial ini mulai menarik perhatian investor di seluruh mancan negara, terutama para investor saham yang selama ini menyaksikan pasar saham jatuh di tengah pandemi virus korana ini.

Alhasil para investor ini sekarang mulai mencoba masuk ke uang kripto dan membuat nilai uang-uang kripto pun melonjak tinngi. Contoh saja, harga Bitcoin sebelum pandemi itu ada di kisaran Rp 100 jutaan, setelah pandemi langsung melonjak hingga di atas Rp 800 juta, bisa di bayangkan berapa kali lipat kenaikannya.

Investor Indonesia pun tak mau ketinggalan untuk mencicipi gurihnya cuan uang kripto. Menurut CEO Indodax Oscar Darmawan lonjakan mata uang kripto itu disebabkan oleh beberapa hal.

“Harganya tergantung market, jadi yang membuat harga bitcoin tinggi atau rendah bukan intervensi perusahaan, bukan juga sebuah negara. Tapi karena proses demand and supply di market itu sendiri,” kata Oscar CEO Indodax.

Pembelian Bitcoin secara borongan juga menjadi faktor yang menyebabkan harganya melambung naik. Selain Tesla, Oracle milik miliuner Larry Ellison juga termasuk yang paling rajin membeli Bitcoin.

“Jika pembelian atau permintaan masih terus terjadi, maka kemungkinan besar harga Bitcoin akan terus melonjak naik. Seperti apa yang diprediksi oleh JP Morgan sebelumnya, harga Bitcoin bisa mencapai lebih dari Rp 2 miliar pada tahun ini atau tahun depan,” kata Oscar.

Harga Bitcoin saat ini sudah menembus di harga Rp 800 jutaan per koinnya. Buat yang ingin membeli gimana ya? Apakah harus punya uang Rp 800 juta? Tentu saja tidak. Bitcoin bisa dibeli dengan hanya bermodal Rp 10.000 saja lho.

Kata Oscar, pahami terlebih dahulu dari sisi teknologinya, aktivitas market dan lain-lain. Setelah itu pahami regulasinya atau aturannya, karena uang kripto tidak terikat dengan ketentuan bank sentral di suluruh dunia.

Harga Bitcoin atau mata uang digital lainnya tidak ditentukan suatu negara sehingga naik atau turun bebas sesuai mekanisme pasar saat itu.

Jadi cryptocurrency ini pergerakannya lebih fluktuatif, risikonya lebih besar, tapi untungnya juga bisa di bilang besar. High risk high return.

Oscar juga menyarankan masyarakat menggunakan uang dingin atau menganggur untuk membeli aset uang kripto. Setelah itu, pilihlah perusahaan yang berperan penting dan aman sebagai pedagang aset kripto yang sudah terdaftar di Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) Kementerian Perdagangan (Kemendag).

Uang Kripto vs Valuta Asing vs Saham.

Lonjakan harga Bitcoin tentu membuat banyak kalangan masyarakat penasaran. Sejauh mana risiko untuk berinvestasi di sana, dan bagaimana jika dibandingkan dengan investasi di valuta asing (valas) atau saham.

Analis Central Capital Futures Wahyu Tribowo Laksono memiliki pendapat trading valas lebih aman dibandingkan Bitcoin atau mata uang kripto lainnya. Pasalnya, valas ada kendali dari bank sentral di setiap negara.

“Uang sebenarnya lebih aman dari pada emas atau Bitcoin. Dalam teknik trading-nya, emas bisa melambung gila-gilaan juga loh bahkan bisa anjlok gila-gilaan juga, tapi tidak separah trading Bitcoin,” kata Wahyu.

Wahyu juga menambahkan, jika memang ingin mencoba masuk ke investasi Bitcoin sebaiknya dilakukan untuk jangka panjang, bukan trading harian atau jangka pendek. Alasannya, naik-turunnya Bitcoin dalam jangka pendek sangat luar biasa, namun jika dilihat jangka panjang bisa naik cukup tinggi, dibutukan kesabaran.

Wahyu juga memberikan tips jangan sampai investasi kita disimpan di satu tempat karena risikonya yang tinggi. Investasi sebaiknya dipecah-pecah ke beberapa bagian agar lebih aman.

“Misalnya kita memiliki aset emas dan Bitcoin, salah satu dari aset naik dan salah satu turun, itu yang dimaksud dengan don’t put your eggs in one basket. Artinya, ini sebagai salah satu diversifikasi aset,” kata Wahyu.

Sementara itu Direktur Pengembangan PT Bursa Efek Indonesia Hasan Fawzi mengatakan kemudahan teknologi membuat jumlah investor ritel saham di Indonesia naik signifikan. Jumlahnya telah mencapai 1,69 juta investor dari sebelumnya 1,1 juta, atau mengalami kenaikan 56%.

Kata Hasan, ini memang tidak terlepas dari aplikasi (jual-beli saham) yang memberi kemudahan bagi investor. Ditambah lagi dengan media sosial sehingga membuat begitu mudahnya mereka mendapatkan informasi dan sarana pembelajaran dari mana saja. Dari YouTube, Instagram, Twitter, hingga Facebook.

Apalagi, para investor baru ini rata-rata punya banyak waktu untuk belajar hal baru di tengah pandemi korona ini. Selain punya waktu, ada uang juga,” ungkap Hasan.

Uang yang biasanya digunakan untuk jalan-jalan, belanja pakaian baru, dan lain-lain sekarang kan jadi utuh gara-gara pandemi ini. Akhirnya mereka mencari cara baru untuk menyimpan uangnya dan banyak yang masuk ke pasar modal atau saham dan aset kripto.

Jika dibandingkan dengan berinvestasi di saham, uang kripto risikonya lebih tinggi. Pergerakan harian uang kripto jauh lebih agresif dibandingkan saham.

“Kripto bisa jadi sebuah alternatif investasi, ini sudah terbuka dan tersedia walaupun di luar jangkauan pasar modal. Kalau profil resikonya cocok silakan saja, dikembalikan kepada strategi dan rencana keuangan masing-masing investor,” ungkap Hasan.

Seperti berinvestasi saham, ada baiknya sebelum berinvestasi uang kripto investor mengedukasi dirinya terlebih dahulu. Pahami risikonya jangan hanya ingin cuannya saja.

“Di pasar modal atau saham memiliki potensi menguntungkan tapi tidak menutup kemungkinan memiliki kerugian juga, apalagi di kripto, risikonya jauh lebih tinggi. Tentu harus dipahami dulu, apakah sudah yakin mau pilih yang mana,” tambah Hasan.

Hasan juga mengingatkan jangan cuma melihat para pom-pom saham yang cuma memposting di media sosial ketika untung saja. Padahal para influencer saham tersebut juga pasti pernah mengalami kerugian, hanya saja kerugiannya tidak dilihatkan ke media sosial.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *