Ngabalin “Bertemu Jokowi Seperti Musa Mendatangi Firaun”

Posted on

Ngabalin Sebut Bertemu Jokowi Seperti Musa Mendatangi Firaun

TINTAPENA.COM – Jakarta. Momen saling membalas argumen terjadi antara Ali Mochtar Ngabalin dengan Abdullah Hehamahua usai persoalan analogi pertemuan antara TP3 dengan Presiden Joko Widodo (Jokowi) seperti Nabi Musa menghadap Firaun. Ngabalin disebut sebagi lebih dari ‘teroris’ setelah lebih dulu menyebut Abdullah ‘teroris’.

Analogi pertemuan dengan Jokowi tersebut seperti Musa bertemu Firaun awalnya disampaikan oleh Hehamahua dalam channel YouTube Ustadz Demokrasi seperti dapat dilihat, Rabu (14/4). Abdullah Hehamahua pada awalnya menceritakan momen dihubungi oleh pihak Istana pada 9 Maret lalu. pihak Istana memberitahukan kesediaan Presiden Jokowi untuk bertemu dengan TP3.

Pertemuan TP3 dengan presiden Jokowi pun akhirnya dapat berlangsung. Abdullah Hehamahua menyebut bahwa pertemuan tersebut seperti Musa mendatangi Firaun.

“Singkatnya, besoknya kami datang,dan kami telah sepakat bahwa kita datang seperti Musa datang kepada Firaun,” ujar Abdullah Hehamahua.

Ungkapan ini pun lantas lalu disanggah oleh Ngabalin yang tidak terima dengan analogi yang disampaikan Abdullah tersebut. Ngabalin pun menyinggung Abdullah bagaikan ‘teroris’.

“Kalau Musa AS setelah dewasa merantau ke Madyan, setelah 10 tahun dia pun kembali ke Mesir dan dengan mukjizat sebagai seorang nabi. Nah, kawan ini juga lari ke Malaysia, Hehamahua ini lari ke Malaysia lalu pulang menjadi sosok yang menyihir kaum muda menjadi radikal dan ekstrem. makanya Abang tulis, dia pulang ke Malaysia sebagai ‘teroris’,” ungkap Ngabalin, pada wartawan, Jumat (16/4) lalu.

“Saya merasa keberatan (pertemuan TP3 dengan bapak Presiden Joko widodo diibaratkan sebagai Musa yang mendatangi Firaun). Maka dari itu sosok seperti Abdullah Hehamahua yang begitu dahsyat, dia pun tidak menunjukkan Islam yang rahmatan lil’alamin,” ujarnya.

Menanggapi hal itu, Abdullah mengaku justru merasa bersyukur dicap sebagai seorang ‘teroris’. Abdullah pun menilai justru Ngabalin yang lebih ‘teroris’ dari dirinya.

“Saya ‘teroris’? Itulah istilah yang telah diberikan oleh penjajah Belanda ke para pejuang Indonesia mulai dari Teuku Umar di Aceh sampai Pattimura di Maluku,” ujar Abdullah, yang saat ini merupakan Ketua Tim Pengawal Peristiwa Pembunuhan (TP3) 6 laskar Front Pembela Islam (FPI), saat menanggapi komentar Ngabalin.

kalau makna ‘teroris’ adalah untuk orang-orang yang menentang penjajahan, Abdullah merasa bersyukur mendapatkan label itu.

“Jadi kalau itu yang dimaksud Adinda Ngabalin tentang sebutan ‘teroris’, alhamdulillah saya diberi gelar ‘teroris’ darinya. ujar Abdullah.

setelah itu, Abdullah kemudian menyinggung Ngabalin yang dulu merupakan seorang kader Pelajar Islam Indonesia (PII), sedangkan Abdullah saat itu aktif di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Dengan hal demikian,ia menyimpulkan bahwa Ngabalin lebih radikal daripada dirinya.

“kalau saya seorang ‘teroris’, maka Adinda Ngabalin lebih ‘teroris’ lagi. karena mereka yang aktif pada organisasi pemuda, pelajar, dan mahasiswa pasti mengetahui kalau kader PII lebih galak dari kader HMI,” ujar Abdullah.

Tidak cukup sampai di situ, Abdullah pun kemudian menceritakan mengenai aktivitas masa lalunya saat bersama dengan Ngabalin, yaitu pada masa jelang reformasi. pada masa itu, Ngabalin mengajak Abdullah bertemu dengan bapak Prabowo Subianto, tetapi tidak jadi bertemu.

Selain hal itu, Abdullah pun membandingkan keislaman ngabalin dengan presiden joko widodo. hal ini sebagai tambahan penjelasan atas protes yang dilakukan terhadap analogi pertemuan TP3 dengan presiden Joko widodo seperti pertemuan musa dan firaun. adapun analogi yang didengar olehnya dari politikus PDIP bahwa presiden Jokowi seperti Umar bin Khattab, Abdullah tak protes soal analogitersebut, padahal presiden Jokowi dan Umar bin Khattab dinilainya berbeda, termasuk juga berbeda dalam hal keislaman.

“Apakah saya ada protes terhadap analogi tersebut? Tidak. membandingkan keislaman Ngabalin saja, Jokowi disebut kalah total, apalagi jika dibandingkan dengan Umar ibnu Khattab. Padahal Umar itu, kata Rasulullah SAW, sangat ditakuti oleh iblis. Bahkan beberapa saran dan idenya pun dibenarkan Allah SWT sehingga turun dalam bentuk wahyu yang tercantum dalam Al-Qur’an,” ujar Abdullah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *