Kisah Ibu Yang Sudah 7 Tahun Tak Tidur

Posted on
Kisah Ibu Yang Sudah Tak Bisa tidur Sejak Tahun 2014
Kisah Ibu Yang Sudah Tak Bisa tidur Sejak Tahun 2014

TINTAPENA.COM–Bandung Barat, Wanita Asal Bandung Barat Cucu (45th), nampaknya sudah lupa bagaimana rasanya bisa tertidur nyenyak setiap malam maupun siang hari. Lalu bangun lagi dengan kondisi tubuh dan pikiran yang prima. Hilang penat usai beraktivitas pada hari sebelumnya.

Warga Kampung Warung Jati, RT 02/10, Desa Ciptagumati, Kecamatan Cikalongwetan, Kabupaten Bandung Barat itu tampaknya sudah bertahun-tahun tak bisa tidur. Namun tak pasti sejak tahun berapa, hanya saja sejak tahun 2014 ia sudah mengalami masalah susah tidur.

Dia berkisah awal mulai mengalami hal sulit tidur tatkala merasa gelisah setiap kali hendak tidur pada tahun 2014 lalu. Entah apa yang di pikirkannya, namun yang jelas ia mengaku sama sama sekali tak bisa tidur nyenyak tiap malam.

“Awalnya itu tahun 2014, ngerasa enggak bisa tidur. Kalau mau tidur itu selalu gelisah, paling bisa tidur hanya dua jam atau tiga jam, terus bangun lagi. Tapi sekarang sudah enggak bisa tidur sama sekali,” ungkap Cucu kepada detikcom, hari Selasa (31/8/2021).

Cucu mengaku tak tahu apa yang menyebabkannya bisa mengalami hal seperti ini. Padahal sebelum tahun 2014 atau saat usianya baru menginjak 38 tahun ketika belum mengalami kondisi aneh tersebut, kehidupan Cucu berjalan secara normal.

“Enggak tahu kenapa, keluarga saya juga enggak ada yang seperti saya. Memang dulu sempat jatuh di bagian kepala, tapi sudah lama. Pokoknya waktu anak kedua saya masih kecil, saya juga lupa terjadi tahun berapa. Tapi pas jatuh itu ya normal aja setelahnya,” ujar Cucu.

Cucu tak tahan dengan apa yang dirasakannya. Ia lantas memutuskan untuk berobat ke RSUD Cikalongwetan sekitar tahun 2014 lalu, hingga dirinya diberikan obat untuk bisa tidur. Usai mengonsumsi obat tersebut, sedikit demi sedikit ia mulai kembali dapat merasakan kantuk dan bisa tertidur.

“Setelah dikasih obat itu agak lumayan, jadi bisa lebih tenang sama bisa tidur. Tapi ya tetap enggak bisa lama tidurnya,” terang Cucu.

Nampaknya tubuh Cucu menuntut lebih terhadap obat yang dikonsumsinya. Kian hari Cucu kian ketergantungan akan obat untuk membantunya menghilangkan cemas agar bisa tidur. Selama setahun penuh ia terus diberikan obat tersebut oleh pihak rumah sakit. Hingga akhirnya ia memutuskan berhenti mengkonsumsi obat tersebut setahun kemudian lantaran sudah tak merasakan lagi khasiatnya.

“Karena semakin kesini obatnya semakin engga mempan lagi. Jadi dosisnya terus ditambah. Setahun penuh sejak berobat itu dikasih obat tidur tapi malah badan saya kok jadi gerak-gerak sendiri di bagian kaki sama kepala. Mungkin karena itu obat keras,” ujar Cucu.

Akibat kondisinya tersebut, kini Cucu hanya bisa terkulai di tempat tidur. Padahal sebelum mengalami efek samping mengonsumsi obat tersebut, Cucu berkisah bisa beraktivitas dengan normal kendati memang saat itu tak bisa tertidur.

“Kalau dulu mending, enggak bisa tidur juga dapat beraktivitas normal. Kalau malam, biasanya jam 1 malam itu saya jalan-jalan keliling kampung. Ke rumah kakak, orangtua, juga tetangga. Kalau sekarang sudah enggak bisa. Mau jalan saja malah jadi miring badannya. Kalau duduk juga terus gerak-gerak, malah lebih sakit,” cerita Cucu sambil menangis.

Saat ini Cucu memilih tinggal di rumah anak pertamanya yang berada di Kampung Pasirhalang, RT 02/14, Desa Mandalamukti, Kecamatan Cikalongwetan, KBB. Hal itu dilakukan supaya ia bisa lebih dekat dengan keluarga besarnya. Terlebih ada dua orang anaknya yang saat ini sudah beranjak dewasa yang bisa terus memerhatikan dan mengurusnya.

Beruntung Cucu tak patah arang ingin bisa kembali sembuh dan kembali normal seperti sediakala. Ia mencoba berbagai macam jenis pengobatan mulai dari modern hingga tradisional. Terakhir ia diantar keluarga dan beberapa orang kerabatnya berobat ke RS Santosa pada Juli 2021. Di sana Cucu dilakukan scanning pada bagian kepala.

Cerita yang mencengangkan kemudian terselip saat Cucu menjalani pengobatan di RS Santosa. Untuk melakukan scanning, ia harus menerima bius agar dapat tertidur. Dua kali dibius, ternyata tak ada efeknya sama sekali. Memang tubuh Cucu bisa berhenti bergerak, namun matanya sama sekali tetap tak bisa tertidur.

“Kemarin baru ke (RS) Santosa, discan kepalanya. Hasilnya belum keluar. Ia sempat dibius, tapi enggak mempan. Dokter juga sampai bingung kenapa bisa seperti itu. Katanya mereka juga baru kali ini dapat pasien seperti saya,” ujar Cucu.

Cucu berharap jika ada pihak yang bisa membantunya mendapatkan kesembuhan. Ia tak mau terus membebani keluarga dengan kondisinya yang seperti ini. “Ya inginnya bisa cepat sembuh, soalnya sedih kadang suka nangis sendiri. Badan juga terasa sakit karena gerak-gerak sendiri,” harap Cucu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *