Hadapi Maut Saat Berkerja, Petugas Pemadam Dapat SP

Posted on

Hadapi Maut Saat Berkerja, Petugas Pemadam Dapat SP

TINTAPENA.COM, Depok – Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar) Depok telah membantah isu dugaan korupsi yang diungkap oleh salah satu petugasnya, Sandi. Kepala Dinas Damkar Depok, Bapak Gandara, menyatakan kalau perlengkapan Damkar sudah disesuaikan dengan aturan yang berlaku.

“Tidak benar apa yang disampaikan Saudara Sandi. sudah sesuai dengan aturan,” ujar Gandara saat dimintai konfirmasi oleh detikcom, hari Senin (12/4/2021).

Sementara itu, Gandara juga mengklarifikasi soal pemotongan dari insentif yang juga dipersoalkan oleh petugasnya Sandi. Menurutnya, kalau dana insentif dipotong untuk pembayaran BPJS (Badan Penyelenggara Jaminan Sosial).

“Penjelasan dari bidang yang menangani BPJS, sebetulnya potongan itu buat BPJS Ketenagakerjaan dan BPJS Kesehatan yang sudah menjadi kewajiban setiap anggota dan potongannya tidak sebesar itu. Teknisnya bisa tanya ke bidang,” imbuhnya.

Lebih lanjut, juga mengatakan jika pihaknya akan memanggil petugas Sandi terkait dengan aksi protesnya yang membongkar dugaan penggelapan dana tersebut.

“Akan ada Teguran dan pemanggilan oleh atasannya,” ujarnya.

Sebelumnya, Sandi terlihat melakukan aksi protesnya di Balai Kota Depok pada beberapa waktu lalu dan jadi pembahasan viral di media sosial. Dalam aksi itu, Sandi yang sedang membawa poster bertuliskan

‘Bapak Kemendagri tolong, untuk tindak tegas pejabat di dinas pemadam kebakaran Depok. Kita dituntut kerja 100 persen, tapi peralatan di lapangan pembeliannya tidak 10 persen, banyak digelapkan!!!’.

“Asal mulanya karena seperti itu, kita ( petugas lapangan) minta tuntut hak kita, terus apa aja itu kan sama pejabat itu didiemin. Itu (kejadian fotonya) pas banget saya posting, itu karena sudah kesel,” kata Sandi saat dihubungi tim detikcom, hari Senin (12/4/2021).

Dari salah satu dugaan penggelapan dana yang diungkap oleh petugas Sandi ialah pengadaan sepatu untuk petugas pemadam pada tahun 2018 lalu. Menurut Sandi, sepatu yang diterima oleh dirinya dan rekan-rekan kerjanya ini sangat tidak sesuai dengan spesifikasi.

“Terakhir tahun 2018 itu juga sepatu-sepatu kami bukan yang sepatu boot, sepatu PDL yang dibagikan itu nggak ada safety-nya sama sekali. Enggak ada besi pengamannya, yang depan enggak ada besinya, yang bawah enggak ada besinya. Istilahnya kami kadang untuk panggilan warga evakuasi itu kan ya sempet ada kejadian temen kena beling, tapi pejabat diam aja,” ujarnya semakin kesal.

Petugas Sandi juga mengungkap jika adanya pemotongan terkait dana insentif mitigasi dan dana penyemprotan disinfektan. Seharusnya, setiap petugas akan mendapatkan dana insentif sebesar Rp 1,7 juta, namun faktanya yang diterima hanya Rp 850 ribu.

“Temen-temen jadi protes setelah itu ada duit mitigasi dan penyemprotan, dua kegiatan di situ. Kita pertanyakan duit kegiatan tanda tangan kita sebesar Rp 1,7 juta sekian, tapi nerima duitnya hanya Rp 850 ribu saja, separuhnya, jadi dibagi dua kepada teman,” ujarnya lagi.

Buntut dari kejadian tersebut, Sandi mengaku sudah menerima ancaman berupa desakan dari Dinas untuk mengundurkan diri hingga diberi surat peringatan (SP) oleh atasannya.

“Begitu juga saya kemarin saya dikasih SP, Danru saya nanya ‘Kenapa anak buah saya dikasih SP, dalam hal apa?’. Terus saya juga pertanyakan SP saya dalam hal apa, kalau dalam kerjaan saya kerja rajin, saya masuk terus, sampai saya sakit saya bekerja, enggak pernah enggak masuk, pejabat cuma intinya ngasih SP,” sambungnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *