Fakta Vaksin Yang Menimbulkan 29 Kematian Di Norwegia

Posted on
Vaksin
vaksin

Sebanyak dua puluh sembilan (29) lansia di negara bagian Eropa Norwegia meninggal setelah mendapat suntikan vaksin COVID-19 buatan Pfizer dan BioNTech. Kabar ini memunculkan keraguan pada sebagian kalangan soal keamanan vaksin COVID-19 bagi lansia di negara tersebut.

Beberapa negara menempatkan lansia sebagai prioritas utama vaksinasi, sedangkan Indonesia baru akan memulai memvaksinasi kelompok lansia setelah tenaga kesehatan dan petugas layanan publik. Menkes Budi Gunadi Sadikin memperkirakan, lansia baru akan mendapat vaksin COVID-19 sekitarĀ  bulan Maret-April 2021.

Vaksin Comirnaty yang dikembangkan Pfizer-BiNTech sebenarnya sudah melalui uji klinis yang melibatkan beberapa kelompok lansia, dan hasilnya cukup aman. Sedangkan beberapa vaksin lainnya, seperti CoronaVac buatan Sinovac yang saat ini sudah tersedia di Indonesia, sedang dalam tahap uji klinis pada kelompok lansia.

Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI Penny K Lukito mengatakan sedang menunggu hasil uji klinis pada lansia untuk bisa memberikan izin penggunaan vaksin tersebut. Jika hasilnya meyakinkan, maka izin akan segera diberikan kepada lansia.

“Tentunya kita sedang menunggu, semoga hasil dari uji klinis fase 1 dan 2 pun juga bisa kita ekstrapolasi sesuai dengan harapan, sehingga bisa memberikan keyakinan untuk memberikan izin penggunaannya untuk para lansia. Apalagi produknya sudah ada di Indonesia di Bio Farma,” kata Penny Kepala BPOM dalam diskusi dengan Ikatan Alumni ITB di Bogor.

Jadi apa yang sebenarnya terjadi pada 29 lansia di sebuah negara bagian Eropa tersebut? Investigasi mengenai temuan tersebut tengah berlangsung, namun beberapa fakta yang harus diketahui saat ini terangkum sebagai berikut.

1. Terjadi pada lansia ‘frail’
Dari 29 kasus kematian yang telah dilaporkan, investigasi dilakukan dalam 13 kasus. Sejauh ini disimpulkan beberapa adverse reaction (demam, muntah, dan diare) yang memicu vaksin mRNA, platform yang digunakan vaksin buatan Pfizer, mungkin memicu dampak yang fatal pada beberapa pasien lansia dengan kondisi yang begitu lemah dan rentan.

Dikutip dari legemiddelverket.no, Norwegian Medicines Agency (NOMA) menyebut uji klinis skala besar yang telah dilakukan Pfizer/BioNTech tidak melibatkan pasien dengan kondisi atau keadaan tidak stabil dan dengan penyakit akut. Norwegia saat ini telah memvaksinasi lansia dan orang-orang di panti jompo, termasuk yang memiliki penyakit yang serius.

“Karenanya bisa diperkirakan bahwa kematian di sekitar waktu vaksinasi mungkin saja terjadi. Di Norwegia, dalam sepekan terjadi kematianĀ  mencapai rata-rata 400 di panti jompo dan fasilitas pelayanan jangka panjang,” tulis NOMA dalam artikel yang dipublikasikan di Negara tersebut.

2. Kewaspadaan ekstra pada lansia dengan penyakit bawaan
Direktur medis NOMA, Steinar Madsen, kepada BMJ menyebutkan adverse reactions pada vaksin mRNA tidak menimbulkan bahaya pada pasien lebih muda dan bugar. Direktur medis NOMA menyebut, dampak fatal adalah kondisi yang langka dan terjadi pada pasien lansia yang ‘very frail’ dengan penyakit sangat serius.

“Kami sekarang meminta dokter untuk melanjutkan vaksinasi tetapi dengan evaluasi yang sangat ekstra pada orang yang menderita sakit dengan kondisi penyerta yang mungkin kabuh karenanya,” katanya.

Evaluasi yang sangat ekstra mencakup pembahasan rasio ‘risk and benefit’ dengan pasien maupun keluarga pasien, untuk memutuskan perlu tidaknya pasien mendapat vaksin tersebut.

3. Vaksinasi pada kelompok lansia
Di beberapa negara, kelonpok lansia termasuk prioritas utama vaksinasi karena dianggap sebagai kelompok yang rentan terhadap komplikasi COVID-19. Di Inggris, seorang lansia berusia 90 tahun, Margaret Keenan, menjadi pasien pertama yang mendapat suntikan vaksin COVID-19. Margaret mendapatkan vaksin buatan Pfizer-BioNTech.

Di Negeri Paman Sam Amerika Serikat, presiden Amerika Joe Biden juga telah mendapat dosis pertama vaksin COVID-19. Ia juga menggunakan vaksin buatan Pfizer-BioNTech, yang uji klinisnya telah melibatkan kelompok lansia.

Vaksin dengan platform inactivated virus seperti CoronaVac buatan Sinovac juga telah dipakai untuk kelompok lansia, antara lain di negara China dan Turki. Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan yang usianya telah mencapai 66 tahun adalah salah satu penerima suntik vaksin CoronaVac.

4 Indonesia belum prioritaskan para lansia
Berbeda dengan banyak negara lainnya yang memprioritaskan para lansia, Indonesia memprioritaskan petugas pelayanan publik untuk mendapat vaksin terlebih dahulu setelah medis. Langkah ini dipilih karena vaksin yang tersedia saat ini adalah CoronaVac buatan Sinovac, yang telah di uji klinis pada lansia masih berjalan. Vaksinasi untuk lansia akan diberikan ketika sudah ada pilihan vaksin lain yang sudah terbukti aman bagi para lansia di Indonesia.

“Kita akan mulai dengan petugas pelayanan publik dan para lansia sekitar Maret sampai akhir April. Kalau selesai diharapkan akhir April kita bisa melakuan untuk seluruh masyarakat Indonesia,” kata Menkes dalam rapat kerja dengan Komisi IX DPR RI.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *