Dikira Rejeki Nomplok, Ardi Menikmati Uang Salah Transfer

Posted on

Dikira Rejeki Nomplok, Ardi Menikmati Uang Salah Transfer

TINTAPENA.COM – Surabaya, Terdakwa kasus salah transfer BCA sebesar Rp51 juta, Ardi Pratama, telah dijatuhi hukuman pidana selama satu tahun penjara usai dinilai melakukan kesalahan telah sengaja menggunakan uang salah transfer yang masuk ke rekeningnya.

Ketua Majelis Hakim, Ni Putu Purnami mengatakan, Ardi terbukti melanggar Pasal 85 UU Nomor 3 Tahun 2011, tentang Transfer Dana.

“Mengadili terdakwa Ardi Pratama telah terbukti secara sah karena melanggar Pasal 85 UU Nomor 3/2011. Dengan menguasai yang bukan miliknya dengan hasil transfer nasabah PT BCA Tbk,” kata Majelis Hakim, di ruang Candra, Pengadilan Negeri (PN) Kota nSurabaya, hari nKamis (15/4).

Dengan pertimbangan tersebut, majelis pun telah menjatuhi pidana penjara selama satu tahun kepada Ardi, yang sehari-hari berprofesi sebagai makelar mobil tersebut.

“Menjatuhkan pidana kepada terdakwa oleh karena itu dengan hukuman pidana penjara selama satu tahun,” ucap dia.

Majelis mengatakan pertimbangan yang memberatkan Ardi tersebut adalah karena ia berbelit-belit dan terbukti sudah menggunakan sejumlah uang salah transfer tersebut. Sedangkan hasil pertimbangan yang meringankan Ardi karena ia tak pernah dihukum dan berlaku sopan selama persidangan.

“Pertimbangan yang memberatkan, terdakwa sudah menikmati ejumlah uang dari kesalahan transfer tersebut dan terdakwa berbelit-belit selama proses persidangan,” kata Majelis.

Mendengar hasil putusan tersebut, terdakwa Ardi yang mengikuti persidangan secara virtual dari Rumah tahanan Klas I Surabaya, Medaeng, Sidoarjo, tak mengatakan sepatah katapun.

Di sisi lain, penasihat hukum dari Ardi mengatakan pikir-pikir dan belum menentukan apa langkah hukum selanjutnya. Hal senada juga dikatakan jaksa penuntut umum (JPU)

“Kami akan pikir-pikir, yang mulia,” kata salah satu pengacara Ardi, R Hendrix Kurniawan.

“Pikir-pikir, yang mulia,” timpal JPU I Gede Willy Pramana.

Putusan dari hakim ini diketahui lebih ringan dibandingkan dari tuntutan pidana penjara selama dua tahun dari JPU kepada Ardi.

“Menuntut agar majelis hakim menghukum terdakwa Ardi Pratama dengan pidana dua tahun penjara,” kata jaksa Zulfikar, hari Rabu (24/3) sore.

Ardi Pratama dinilai bersalah, dana dari hasil salah transfer sebesar Rp 51 juta itu diakuinya telah digunakan untuk membeli keperluan sehari-hari dan membayar hutang-hutangnya.

Kasus ini bermula saat Ardi Pratama, warga Surabaya, mendapatkan transfer masuk uang sebesar Rp51 juta ke rekeningnya pada bulan Maret tahun 2020. Ia menyangka uang itu adalah hasil dari komisinya sebagai makelar.

Namun, 10 hari berselang, rumah Ardi didatangi oleh dua orang pegawai BCA. Mereka mengatakan bahwa uang senilai Rp51 juta itu adalah uang yang salah transfer dan masuk ke rekening Ardi.

Uang itu sudah terlanjur terpakai Ardi dan keluarganya. Pihak BCA sempat juga mengirimkan sebuah surat somasi kepada Ardi. Namun tak kunjung mendapatkan respon dari Ardi dan keluarga.

Berbulan-bulan kemudian, seorang eks pegawai BCA kembali melaporkan Ardi ke polisi, pada bulan Agustus tahun 2020. Lalu pada bulan November 2020, Ardi resmi ditetapkan sebagai tersangka dan ditahan dengan tuduhan Pasal 85 UU Nomor 3 Tahun 2011.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *