Daur Ulang Alat Antigen, 5 Pegawai Kimia Farma Jadi Tersangka

Posted on

Daur Ulang Alat Antigen, 5 Pegawai Kimia Farma Jadi Tersangka

TINTAPENA.COM–Polda Sumatera Utara telah menetapkan lima orang tersangka dalam kasus penggunaan alat tes antigen bekas di Bandara Kualanamu, Deliserdang, Provinsi Sumatera Utara.
Kelima tersangka itu antara lain PM (45 tahun) selaku Plt Branch Manager Laboratorium Kimia Farma Medan Jalan RA Kartini, merangkap sebagai Kepala Layanan Kimia Farma Diagnostik Bandara Kualanamu.

PM berperan sebagai penanggungjawab laboratorium. Ia juga diduga yang memerintahkan penggunaan cotton bud swab antigen bekas tersebut. Kemudian SR (19 tahun), DJ (20 tahun), M (30 tahun), dan R (21 tahun).

“Jajaran Polda mengungkap kasus tindak pidana di bidang kesehatan tersebut yaitu melakukan atau memproduksi mengedarkan dan menggunakan bahan sediaan farmasi dan atau alat kesehatan yang tidak memenuhi standard keamanan khasiat atau kemanfaatan dan mutu,” kata Kapolda Sumut, Irjen Panca Putra di Mapolda Sumut, hari Kamis (29/4).

Panca mengatakan kalau para tersangka ditangkap karena telah memproduksi mendaur ulang stik yang digunakan sebagai alat untuk melakukan tes swab antigen. Stik tersebut didaur ulang oleh para pelaku. Kemudian dicuci kembali, dibersihkan, dan dikemas kembali. Alat tes antigen itu kemudian dipakai kembali di Bandara Kualanamu.

Menurutnya, kasus ini terungkap pada hari Selasa, tanggal 27 April 2021. Saat itu Tim Penyidik Subdit IV Ditreskrimsus Polda Sumut telah menerima sejumlah informasi penggunaan kembali alat tes antigen di Lantai M Gedung Bandara Kualanamu.

Polisi juga telah menyita sejumlah barang bukti lainnya, antara lain rapid rest deviq, brus swab, stik antigen, tabung, cairan buffer plastik ukuran 9 Ml, 2 buah stik control, hingga uang sebesar Rp177 juta.

Kelima tersangka tersebut dijerat dengan Pasal 98 ayat (3) Jo pasal 196 Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan dengan pidana penjara paling lama 10 tahun dan denda maksimal Rp 1 miliar.

Mereka juga dijerat dengan Pasal 8 huruf (b), (d) dan (e) Jo pasal 62 ayat (1) Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen dengan pidana penjara paling lama 5 tahun dan denda Rp2 miliar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *