AS Tak Perlu Masker, Ini Beda Vaksin AS Dengan Vaksin RI

Posted on
Tak Perlu Masker, Ini Beda Vaksi AS Dengan Vaksi RI
Ilustrasi suntik vaksin Covid-19. (AP/Frank Augstein)

TINTAPENA.COM–Jakarta, Guru Besar Paru Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) Prof Tjandra Yoga Aditama mengemukakan soal kebijakan otoritas Amerika Serikat (AS) yang berani melepas masker di luar ruangan karena dipengaruhi oleh hasil penelitian jenis vaksin yang sangat berbeda dengan vaksin yang digunakan di Indonesia.

“Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (CDC) Amerika Serikat telah membuat rekomendasi ini berdasarkan dari hasil penelitian terhadap vaksin yang mereka gunakan, yaitu Pfizer, Moderna, dan Johnson & Johnson,” katanya saat dihubungi ANTARA di Jakarta, pada Jumat lalu.

Sementara vaksin yang saat ini berlaku di Indonesia berdasarkan izin penggunaan darurat (EUA) yang dikeluarkan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), kata dia, di antaranya Sinovac, AstraZeneca dan Sinopharm.

Namun di waktu mendatang, kata Tjandra, Tidak menutup kemungkinan jika vaksin di AS juga akan dipakai di Indonesia karena sebagian sudah tercantum di Surat Keputusan (SK) Menkes Nomor 84 Tahun 2020 tentang Pelaksanaan Vaksinasi dalam Rangka Penanggulangan Pandemi Corona Virus Disease 2019 (Covid-19).

“Sebagian vaksin-vaksin di Amerika Serikat itu rencananya akan dipakai juga di Indonesia,” ucapnya.

Ia menyatakan bahwa kajian terhadap vaksin yang ada di Indonesia hingga saat ini masih dilakukan Kementerian Kesehatan beserta otoritas terkait.

“Kita tunggu saja hasil dan bagaimana arahan resmi dari Kementerian Kesehatan, tentu bergantung dari hasil penelitian ilmiah vaksin yang ada,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa otoritas AS terbilang tegas dalam penggunaan vaksin bagi masyarakatnya maupun pendatang yang ada di negara tersebut.

“Anak saya itu baru sepekan di New York, dan di Jakarta sudah menerima suntikan vaksin Sinovac dua kali, tapi sampai di AS diminta divaksin yang sudah disetujui Food and Drug Administration (FDA) atau Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat. Bingung juga bagaimana memutuskannya, tidak ada kepustakaannya yang sudah dapat Sinovac lalu harus dapat Pfizer atau Moderna lagi,” ucap Tjandra Yoga Aditama.

Secara terpisah, Juru Bicara Pemerintah Untuk Covid-19, Prof Wiku Adisasmito, mengatakan soal kebijakan vaksinasi adalah salah satu dari tiga lapis utama perlindungan masyarakat agar tidak tertular Covid-19.

“Yang pertama adalah 3M, yakni mencuci tangan, memakai Masker dan menghindari kerumunan. Yang kedua, adalah 3T, yaitu tracing, testing, treatment, dan yang ketiga adalah vaksinasi,” ungkapnya saat dihubungi ANTARA.

Wiku menambahkan jika 3M itu sangat penting dilakukan dimasa selama pandemi belum berakhir dan juga karena belum cukupnya bukti ilmiah yang bisa menunjukkan bahwa hasil dari vaksinasi tersebut telah menimbulkan cukup kekebalan seseorang maupun komunal.

Melaksanakan tiga lapis perlindungan itu dengan cara bersamaan sangat penting untuk melindungi kesehatan dan keselamatan masyarakat agar bisa produktif dan aman dari paparan Covid-19.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *