8 Hal yang Dapat Membatalkan Puasa

Posted on
Berbuka puasa
Berbuka puasa

TINTAPENA.COM, JAKARTA – Selain harus melaksanakan kewajiban-kewajiban pada saat berpuasa di bulan Ramadhan, kita juga diharuskan untuk menjaga diri dari hal-hal yang dapat membatalkan ibadah puasa.

Tertuang dalam kitab Fath al-Qarib dijelaskan bahwa hal-hal yang dapat membatalkan puasa meliputi beberapa hal, berikut perincian dan penjelasannya nya dikutip dari nu.or.id :

1. Masuknya sesuatu ke dalam lubang tubuh dengan disengaja.

Maksudnya, puasa yang dijalankan seseorang akan batal ketika adanya benda lain yang masuk dalam salah satu lubang yang berpangkal pada organ bagian dalam yang dalam istilah fiqih biasa disebut dengan jauf. Seperti mulut, telinga dan hidung.

Benda tersebut masuk ke dalam jauf dengan kesengajaan dari diri seseorang.

Lubang (jauf) ini memiliki batas awal yang ketika benda melewati batas tersebut maka puasa akan menjadi batal, tapi selama belum melewati batas awal maka puasa tetap sah.

Dalam lubang hidung, batas awalnya adalah bagian yang disebut dengan muntaha khaysum (pangkal insang) yang sejajar dengan mata.

Dalam telinga yaitu bagian dalam yang sekiranya tidak telihat oleh mata.

Sedangkan dalam mulut, batas awalnya adalah bagian mulut tengah atau tenggorokan yang biasa disebut dengan hulqum.

Puasa akan menjadi batal ketika terdapat sesuatu benda, baik itu makanan, minuman, atau benda lain yang sampai pada dalam mulut atau tenggorokan.

Namun, puasa tidak akan batal bila benda masih berada dalam mulut dan tidak ada sedikit pun bagian dari benda itu yang sampai pada tenggorokan.

Berbeda halnya ketika benda yang masuk dalam lubang (jauf) seseorang yang sedang menjalankan puasa dilakukan dalam keadaan tidak sengaja atau lupa, tapi ia belum mengerti bahwa masuknya benda pada jauf adalah hal yang dapat membatalkan ibadah puasa.

Dalam keadaan seperti itu, puasa yang dijalankan seseorang tetap dihukumi sah selama benda yang masuk dalam lubang (jauf) tidak dalam jumlah yang banyak, seperti tidak sengaja atau lupa memakan makanan yang sangat banyak pada saat menjalankan puasa.

Maka ketika hal-hal itu terjadi puasa dihukumi batal. (Syekh Zainuddin al-Maliabari, Fath al-Mu’in, juz 1, hal. 259).

2. Mengobati dengan melakukan cara memasukkan benda (obat atau benda lain) pada salah satu dari dua jalan (qubul dan dubur).

Misalnya pengobatan kepada sesorang yang sedang mengalami ambeien dan juga bagi orang yang dalam keadaan sakit dengan memasang kateter urin, maka hal-hal tersebut dapat membatalkan ibadah puasa.

3. Muntah dengan sengaja.

Jika seseorang yang menjalankan puasa muntah tanpa disengaja atau muntah secara tiba-tiba (ghalabah) maka puasanya tetap dihukumi sah selama tidak ada sedikit pun sesuatu dari muntahannya yang tertelan kembali olehnya.

Jika sesuatu dari muntahannya tertelan dengan sengaja maka puasanya dihukumi batal.

4. Melakukan sesuatu hubungan seksual (jima’) dengan sengaja.

Bahkan, dalam konteks ini terdapat ketentuan khusus: puasa seseorang tidak hanya batal dan tapi ia juga dikenai denda (kafarat) atas perbuatan yang id lakukan.

Denda yang dimaksud adalah berpuasa selama dua bulan berturut-turut. Jika tidak mampu, seseorang tersebut wajib memberi makanan pokok senilai satu mud (0,6 kilogram beras) kepada 60 fakir miskin.

Hal ini tidak lain bertujuan sebagai ganti atas dosa yang ia lakukan berupa berhubungan seksual pada saat menjalankan ibadah puasa.

5. Keluarnya air mani (sperma) disebabkan bersentuhan kulit.

Misalnya, sperma seseorang keluar akibat onani atau sebab bersentuhan dengan lawan jenis tanpa melakukan hubungan seksual.

Berbeda halnya ketika sperma keluar karena mimpi basah (ihtilam) maka dalam keadaan seperti itu puasa tetap dihukumi sah.

6. Mengalami haid atau nifas pada saat menjalankan ibadah puasa.

Selain dihukumi batal puasanya, seseorang yang mengalami haid atau nifas berkewajiban untuk mengqadha puasanya.

Dalam hal ini menjalankan ibadah puasa memiliki konsekuensi yang berbeda dengan shalat dalam hal berkewajiban untuk mengqadha.

Sebab dalam shalat orang yang haid atau nifas tidak diwajibkan untuk mengqadha shalat yang telah dirinya tinggalkan pada masa haid atau nifas.

7. Gila (junun) pada saat menjalankan ibadah puasa.

Ketika hal ini terjadi pada seseorang yang menjalankan puasa di pertengahan, maka puasa yang ia jalankan dihukumi batal.

8. Murtad pada saat berpuasa.

Murtad adalah keluarnya seseorang yang sedang menjalankan ibadah puasa dari agama Islam.

Misalnya seseorang yang sedang menjalankan puasa tiba-tiba mengingkari keesaan Allah subhanahu wata’ala, atau mengingkari hukum syariat yang sudah menjadi konsensus ulama (mujma’ alaih).

Di samping batal puasanya, ia juga berkewajiban untuk segera mengucapkan kalimat syahadat serta mengqadha puasanya.

Delapan hal di atas adalah perkara yang dapat membatalkan ibadah puasa seseorang, ketika salah satu dari delapan hal tersebut terjadi pada saat puasa, maka puasa yang dijalankan oleh seseorang akan menjadi batal.

Semoga ibadah puasa kita pada bulan Ramadhan tahun ini diberi kelancaran dan kesempurnaan serta menjadi ibadah yang diterima oleh Allah subhanahu wata’ala. Amin yaa Rabbal ‘alamin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *