6 Faktor Kecendrungan Orang Menyebarkan Hoaks

Posted on

6 Faktor Kecendrungan Orang Menyebarkan Hoaks

TINTAPENA.COM — Bantul, DPR RI telah mencatat ada sebanyak 3500 laporan kejahatan siber hingga bulan Maret tahun 2021 yang didominasi laporan konten SARA. Selain itu, DPR RI menilai jenis kejahatan siber muncul karena banyaknya sebaran-sebaran hoaks.


“Dari data milik kepolisian, sampai diakhir bulan Maret 2021 ada sebanyak 3.500 laporan kejahatan siber yang masuk,” kata Anggota Komisi I DPR RI Sukamta melalui webinar Merajut Nusantara dengan tema ‘Pemanfaatan TIK Sebagai Media Edukasi Masyarakat Menghadang Cyber Crime dan Hoaks’, pada Sabtu (17/4/2021) kemarin.

Dari 3500 laporan tersebut, diantaranya ada sebanyak 1.048 laporan kasus atas konten yang telah menimbulkan rasa kebencian SARA. Kemudian disusul dengan 649 laporan terkait soal penipuan online dengan kuantitas penipuan yang cukup meningkat dan jumlah kerugian rupiahnya pun juga semakin besar.

“Untuk jenis kejahatan siber yang lain seperti pornografi, akses ilegal, perjudian, peretasan, gangguan sistem, intersepsi (penyadapan) juga menjadi jenis-jenis kejahatan siber yang kuantitas dan kualitasnya telah meningkat,” ungkapnya.

Karena itu Sukamta mendorong agar Kominfo RI memiliki kajian ilmiah kenapa banyak orang melakukan hoaks. Bahkan, jika memang perlu Kominfo segera menertibkan iklan-iklan yang kiranya menyesatkan dan merugikan bagi para konsumen.

“Seperti dengan teknologi Artifisial Intelegensi, Kominfo pasti dapat memberikan tindakan. Misal seperti sekarang ini di media sosial kalau ada konten kekerasan pasti secara otomatis akan langsung diblur gambarnya dan butuh akses khusus untuk bisa masuk,” ucapnya lagi.

Berdasarkan dari hasil survei timnya, dia menyebut ada enam alasan utama yang membuat masyarakat memang gemar menyebarkan hoaks. Survei tersebut telah dilakukan timnya secara online.

“Dari survey kecil-kecilan yang dilakukan tim ini secara online ada enam alasan kenapa seseorang sangat mudah menyebarkan hoaks,” ujarnya.

Alasannya:

pertama, penggunaan akses internet yang tinggi. Di mana jika semakin tinggi biaya pengeluaran internet seseorang maka semakin tinggi juga pola kecenderungannya untuk menyebarkan hoaks tersebut.

“Kedua, semakin tinggi rasa kepercayaan terhadap suatu berita tentang konspirasi maka semakin tinggi pula kecenderungannya menyebarkan hoaks, ini barangkali politik,” ujarnya.

Ketiga, orang-orang yang memiliki tingkat kepemimpinan di dalam sebuah kelompok tertentu. Pasalnya ada memiliki kecenderungan juga untuk menyebarkan hoaks.

“Yang keempat ini disebabkan karena rendahnya rasa kepercayaan terhadap agamanya membuat lebih rentan untuk menyebarkan hoaks,” katanya.

Kelima, karena adanya rasa ketidak percayaan diri dalam kecakapannya di media sosial tersebut.

Untuk yang keenam atau terakhir, dia menyebut faktor ini disebabkan karena kondisi masyarakat yang cenderung rendah menyebarkan hoaks dan memicu adanya peluang menyebarkan hoaks.

Sementara itu, praktisi dari bagian kehumasan dan komunikasi publik Freddy Tulung ikut menambahkan, jika saat ini dari 170 juta pengguna internet di Indonesia didominasi dari usia 16-24 tahun. Di mana penggunaan akses internet ini mencapai hingga 9 jam perhari.

“Sembilan jam terkoneksi dengan Inter tentu akan mempengaruhi pola pikir. Ini yang harus diperhatikan karena 99 persen rakyat Indonesia menggunakan smartphone sehingga bisa diakses di mana saja dan kapan saja,” ungkapnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *